Posted by : Ide Cemerlang
Ahad, 15 Mei 2016
Mendengar berita kedatangan kafilah dagang orang Quraisy
dari Syam yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb, Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam mengajak para Shahabatnya untuk mencegat dan merampas kafilah tersebut
dengan dalih sebagai pengganti kekayaan mereka yang dirampas sebagian kaum
musyrikin di Mekkah. Hanya sebagian shahabat yang ikut karena yang lain
menyangka tidak akan terjadi peperangan.
Di tengah perjalanan, ketika Abu Sufyan mendengar berita
ini, maka ia mengirim utusan ke Mekkah untuk meminta bantuan. Maka seluruh kaum
Quraisy mempersiapkan diri untuk tujuan
perang. Tak ada satu tokoh Quraisy pun yang ketinggalan dari keberangkatan
pasukan sekitar seribu personel ini.
Sementara Rasulullah berangkat bersama 314 sahabatnya pada
malam Ramadhan bersama 70 ekor unta yang dipakai bergantian. Mereka tidak
mengetahui perihal bantuan dari Mekkah itu. Sementara kafilah Abu Sufyan
berhasil lolos meninggalkan dan menyusuri mata air Badr melalui jalan
pantaimenuju arah Mekkah.
Meskipun Abu Sufyan telah mengirim utusan kepada pasukan
bahwa dirinya telah selamat, namun Abu Jahal tetap melanjtkan perjalanannya.
Maka, ketika Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam mendengar
berita keberangkatan kaum Quraisy, beliau meminta pendapat sahabat-sahabatnya.
Kaum Muhajirin mendukung dan memandang baik pendiriannya, salah satunya Miqdad
bin Amir dengan tegas menyatakan : “Ya, Rasulullah laksanakan apa yang
diperintahkan Allah kepada Anda. Kami tetap bersama Anda…” Tetapi Rasulullah
shalallahu’alaihi wasallam tetap memandang mereka seraya berkata,” Kemukakanlah
pandangan kalian kepadaku wahai
manusia.” Kemudian S’ad bin Muadz menjawab,” Demi Allah tampaknya kalian
meminta ketegasan sikap kami, wahai Rasulullah ?” Rasulullah menjawab,”Benar
!!”. S’ad berkata’”Kami telah beriman kepada anda dan kami pun membenarkan
kenabian dan kerasulan Anda. Kami pun telah menjadi saksi bahwa apa yang telah
anda bawa adalah benar. Atas dasar itu kami menyatakan janji dan kepercayaan
kami untuk senantiasa taat dan setia kepada anda. Jalankanlah apa yang Anda
kehendaki, kami tetap bersama Anda. Demi Allah , seandainya Anda menghadapi
lautan dan Anda terjun ke dalamnya, kami
pasti akan terjun bersama anda…”
Mendengar jawaban Sa’ad ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam merasa puas dan senang, kemudian beliau memerintahkan : “Berangkatlah dengan
hati gembira, karena sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah menjanjikan
kepadaku salah satu di antara dua golongan. Demi Allah, aku seolah-olah melihat
tempat-tempat mereka bergelimpangan…”
Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mulai
menyebar intel untuk mencari tahu perihal pasukan musush, dan diketahui bahwa
pasukan musuh berjumlah sekitar sembilan ratus sampai seribu dan disertai
seluruh tokoh kaum Quraisy.
Musuh bergerak sampai di pinggir sebelah seberang lembah
Badar Sedangkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah tiba di pinggir
lembah seberang lain dengan posisi nyaris sehadap dengan lawan, dekat mata air
Badr.
Habbab bin Mundzir bertanya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi
wasallam : “Ya Rasulullah, apakah dalam
memilih tempat ini anda menerima wahyu dari Allah SWT yang tidak dapat diubah lagi ? Ataukah
berdasrkan tipu muslihat peperangan ?” Rasulullah Menjawab :” tempat ini
kupilih berdasrkan pendapat dan tipu muslihat bpeperangan.” Al-Habab
mengusulkan :”Ya Rasulullah, jika demikian ini bukan tempat yang tepat. Ajaklah
pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh, kita membuat kubu
pertahanan di sana dan menggali sumur-sumur di belakangnya. Kita membuat
kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita akan
berperang dalam keadaan mempunyai persediaan air minum yang cukup, sedangkan
musuh tidak akan memperoleh air minum.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam menjawab :”Pendapatmu sungguh
baik.”
Rasulullah
kemudian bergerak dan pindah ke tempat yang diusulkan oleh al-Habbab ra. Selain
itu, Sa’d bin Mu’adz mengusulkan supayta dibuat arisy (kemah) untuk Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai tempat perlindungan dengan harapan bila
terjadi sesuatu dan lain hal yang tidak diharapkan terjadi, Nabi shalallahu
‘alaihi wasallam dapat kembali dengan mjudahdan selamat kepada kaum muslimin di
Madinah dan agar mereka tidak lemah semangat karena ketidakberadaan Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam di antara mereka. Usulan ini disetujui, kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
menenangkan jiwa para shabatanya dengan adanya dukungan dan pertolongan Allah
Subhanahu wata’ala, sampai-sampai beliau menegaskan kepada mereka :”Di sini tempat kematian si Fulan dan si
Fulan (dari kaum musyrikin), seraya meletakkan telapak tangannya di atas tanah.
Akhirnya nama-nama yang disebutkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ternyata benar bergelimpangan tepat di tempat
yang telah ditunjukkannya itu. Selanjutnya Rasulullah shalallahu’alaihi
wasallam dengan khusyu memanjatkan do’a
kepada Allah Subhanahu wata’ala, do’a yang dipanjatkannya adalah : “Ya Allah, inilah kaum Quraisy yang dating
dengan segala kecongkakan dan kesombongannya untuk memerangi engkau dan
mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, tunaikanlah janji kemenangan yang telah Engkau
berikan kepadaku. Ya Allah, kalahkanlah mereka esok hari…”
Beliau
terus memanjatkan do’a kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan merendahkan diri
dan khusyu seraya menengadahkan tangan ke langit, sehingga karena merasa iba
Abu Bakar berusaha menenangkan hati Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan
berkata kepadanya : “Ya RAsulullah, demi diriki yang berada di tangan-Nya,
bergembiralah. Sesungguhnya Allah pasti akan memberikan janji yang telah
diberikan kepadamu.”
Demikian pula dengan kaum muslimin, mereka ikut pula berdo’a
kepada Allah Subhanahu wata’ala memohon pertolongan dengan penuh ikhlas dan
merendahkan diri di hadapan-Nya.
Pada suatu pagi, tahun kedua Hijrah, mulailah pertempuran
itu. Memulainya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengambil segenggam
kerikil kemudian dilemparkannya kea rah kaum Quraisy seraya berkata :”Hancurlah wajah-wajah mereka,” kemudian
meniupkan kearah mereka sehingga menimpa mata semua pasukan Quraisy. Selain itu
Allah mendukung kaum muslimin dengan mengirim bala bantuan Malaikat. Hal tersebut disaksikan seorang Quraisy yang
kelak masuk Islam. Abu Sufyan bin Harits
(bukan bin Harb) menceritakan hal tersebut
pada Abu Lahab tatkala Abu Lahab
menunggu-nunggu berita peretempuran.
“Demi Allah ! Tiada berita, kecuali bahwa kami menemui suatu
kauim yang kepada mereka kami serahkan leher-leher kami sehingga sembelih
sesuka hati mereka , dan mereka tawan kami semau mereka…! Dan demi Allah ! Aku tak dapat menyalahkan orang-orang
Quraisy …! Kami berhadapan dengan orang-orang serba putih mengendarai kuda
hitam belang putih , menyerbu dari antara langit dan bumi, tidak serupa dengan
suatu pun dan tidak terhalang oleh suatu pun…!”
Akhirnya peperangan dimenangkan oleh kaum Muslimin dengan
kemenangan besar. Dari pihak kaum Musyrikin terbunuh 70 orang dan tertawan 70
orang sedang dari kaum Muslimin syahid 14 orang.
Meskipun begitu, perang Badar ini meninggalkan kesan yang
sangat dalam bagi kaum Muslimin maupun kaum musyrikin. Bagi kaum Muslimin,
perang ini merupakan perang yang sangat diagungkan, juga para peserta yang ikut
di dalamnya. Shahabat-shahabat yang ikut dalam perang Badar selalu diutamakan
oleh shahabat yang lainnya dalam segala hal.
Demikian juga kaum Musyrikin sangat menorehkan dndam dalam
diri-diri mereka akan seorang prajurit gagah berani dan perkasa, yaitu Khubaib
bin ‘Adi yang membunuh pemimpin Quraisy al-Harits bin ‘Amir bin Naufal. Maka
tatkala kaum Quraisy berkesempatan menangkap Khubaib bin ‘Adi, mereka
membalaskan dendamnya itu dengan amat keji. Khubaib disiksa dan disalib hingga
syahid.Atau kebencian Hindun akan Hamzah yang telah membunuh Ayah dan anaknya,
hingga membalaskan dendamnya pada perang berikutnya, dengan dibantu budak
hitamnya.
Begitulah, kejadian Badar menggoreskan pelajaran berharga
buat kita petik. Keta’atan para shahabat kepada Allah dan Rasul-Nya membuat
mereka tak gentar dalam menghadapi maut, sekalipun jumlah yang sedikit dan
persiapan yang kurang, namun tetap mereka katakana, “Kami bersama Anda, ya
Rasulullah…!”
Maroji' :
-
Dr.
Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy , Sirah Nabawiyah
-
Khalid
Muh. Khalid, Karakteristik Perihidup Enampuluh Shahabat Rasulullah
-
Syaikh
Muhammad Yusuf Al-Kandahlawy, Sirah Shahabat




